Asap
?
Asap?
Tak mengapa.
Paru paru kami terbuat dari baja
Dan punya penyaring hawa di depannya
Debu?
Selalu berlalu
Biar masih seperti dulu
Kami tak kan mengeluh
Hujan?
Tidak apa apa
Kami kan tetap hidup walau
Tak kau perhatikan
Kau kan memang ingin kehilangan kami
Kau kan memang ingin menggantikan kami
Dengan potongan potongan kayu
gelondongan yang lebih berharga
dari nyawa kami
Kau kan tak perlu pamit pada Si empunya
kehidupan
Karena kehidupan itu telah kau beli
tunai
Kau beli dengan janji janjimu
Kau gadaikan dengan keluguanmu
Dan..
Kau sembunyikan detak jantung kami
Dalam karung karung rupiahmu
Kau tekan lagi hingga kebawah
Hingga kami terbenam di sudut goni yang
bau
Pengap?
Tidak!
Kami tetap bernafas memakai insang cadangan
Kau tak tahukan, kalau kami punya insang
?
Kami biasa berenang seperti ikan
Meliuk liukkan ekor menggelimpang
Di atas tanah yang hitam panas dan
terpanggang
Pku 19/9/19/09:50

Komentar
Posting Komentar