Ibu, Aku Rindu






Ibu, Aku Rindu

Karya : Yurattia Yudian

Aku mulai menarikan jemari ini di keybord

masih belum pasti dengan apa yang akan ku urai

kugali  sisi gembira yang mungkin bisa dibagi

namun tersua olehku sedih yang membekas dihati



Tak ingin sebenarnya itu diungkit bangkitkan lagi

namun raut wajahmu terlukis di pelupuk mata ini

senyum sejuk memeluk jiwa dan mengisi rongga dada

lembut tanganmu membelai hati nan menanti bahagia



Sejak kehadiranku sebagai buah hati pertamamu

tak lepas semburat rona bahagia  menyongsong hari 

harimu



kau peluk besarkanku dalam alunan senandung haru

 birumu

berkejaran dengan waktu hadir adik adikku



Bersama  ayah, junjunganmu, kau rengkuh dayung menuju

 citamu

besarkan buah hati menyusuri hamparan cinta bersuka

 ria

hingga semua menjadi kupu kupu indah yang menari di

 atas bayanganmu

panggilan sayang, pelukan hangat, dan ciuman yang

 menggetarkan sukma

menjadi pupuk penumbuh kembangkan akal budi 

kesayanganmu


Hingga telah melesat anak panah itu meninggalkan 

busurnya

namun tetap hawa hangat dan semburat bahagia 

menyertaimu

membimbing langkah langkah kaki yang kian menjauh di 

depanmu


Lalu

Berkirim kabar, cerita dan kasih dalam cawan cawan nan

 indah

tersedak kadang rasa mendengar panggilanmu

berlari memenuhi harap dan tunggumu



Sampai pada hari itu;

Kau kabarkan berita itu

aku termangu

tergugu

tersedu

ku tahan hampa didada

kudekap harap pada Sang Pencipta

kupeluk erat kakimu

kubesarkan asa di bathinmu

ku termangu



Kutanya mengapa?

tentu  ku  yakin dengan takdirMu

tapi kulupa atau pura pura ku tak tahu

tanya yang sebenarnya tak perlu ada

andai hatiku tulus ikhlaskan semua karenaMu

takkan pernah pertanyaan  hadir menghampiri




Harus !

harus ada jalan keluarnya

mari kita berikhtiar pada ahlinya

hingga perjalanan itu pun ditempuh demi kesembuhanmu 

ibu


Hari hari berikutnya penuh liku

dipembaringan itu

tubuhmu mulai layu

Berseliweran selang infus menjejalmu

kau masih tersenyum membesarkan hatiku

perjuanganmu melawan penyakit itu

sungguh tak terperi

pedih menyayat di relung hati

menyulut api kesabaran tak bertepi

merenggut senyum yang dulu berseri

entah berapa bilangan hari meleleh

melepuh pandangan, jatuh peluh 



Hingga akhirnya Ia menjeputmu

dalam senyum kau tinggalkan isak tangisku



Duhai ibu…

ini aku anakmu

tak pernah jemu mendoa untuk selimutmu

tidurlah ibu

dipembaringan damai dalam dekapan amal amalmu

senantiasa terang ruangmu oleh berlimpah sedekahmu



Tinggallah aku disini

di sudut pusaramu ibu


Sungguh Ibu, aku rindu


Pekanbaru, 17.14,  Rabu 14 Juni 2017⁠⁠⁠⁠


Komentar